Kamis, 11 Februari 2010

my favorite

Raja dari raja pencipta musik Ludwig van Beethoven keluar jadi jabang bayi tahun 1770 di kota Bonn, Jerman. Semasa kanak-kanak sudah tampak jelas bakat musiknya yang luar biasa dan buku musik ciptaannya muncul pertama kali tahun 1783. Di usia remaja dia berkunjung ke Wina dan diperkenalkan kepada Mozart tetapi perjumpaan keduanya berlangsung singkat. Tahun 1792 Beethoven kembali ke Wina dan sebentar dia belajar musik dengan Haydn yang kala itu pencipta musik Wina kesohor (Mozart mati setahun sebelumnya). Beethoven menetap di Wina, Mekkahnya musik waktu itu, selama sisa hidupnya. Rasa musik Beethoven yang tinggi selaku pemain piano mengesankan tiap pendengamya dan dia berhasil baik selaku pemain maupun guru. Segera dia menjadi pencipta musik yang produktif juga. Karyanya dapat sambutan baik. Sejak umur pertengahan dua puluhan ke atas, dia sudah mampu menerbitkan dan menjual buku ciptaan musiknya tanpa kesulitan apa pun.

Ketika Beethoven berumur di ujung dua puluhan, tanda-tanda ketuliannya mulai tampak. Tak pelak lagi gejala ini amat merisaukan si komponis muda. Tuli buat seorang pencipta musik betul-betul suatu malapetaka. Suatu ketika timbul keinginannya mau bunuh diri saja.

Tahun-tahun antara 1802-1815 sering dianggap masa pertengahan karier Beethoven. Pada masa istirahat itu, akibat ketuliannya menghebat, dia mulai mundur dari pergaulan masyarakat. Ketunarunguannya ini membuat orang punya kesan tidak yakin bahwa Beethoven memang betul-betul anti manusia, anti masyarakat, benci bergaul. Dia terlibat dengan percintaan yang kerap dengan gadis-gadis muda tetapi tampaknya semua hubungan ini berakhir tak bahagia dan tak pernah beristeri

Selasa, 19 Januari 2010

damai....

SPIRITUALITAS BAGI KEDAMAIAN DUNIA
Posted by Anatta on 2009-11-18 [ print artikel ini | beritahu teman | dilihat 132 kali ]FENOMENA SEKALA DAN NISKALA

Dalam banyak kesempatan, banyak tulisan, buku-buku, wejangan-wejangan, dakwah-dakwah, orasi-orasi, indoktrinasi-indoktrinasi, kita diajarkan tentang kebaikan, kebenaran, kebajikan, keluhuran, kedewataan dan sejenisnya.

Pada suatu kesempatan, seorang sahabat muda saya menyampaikan kekecewaannya. Ia kecewa terhadap kekacauan yang terjadi pada rumah-tangga seorang instruktur Yoga di Bandung, dimana ia sempat beberapa lama berlatih dan berguru. Menurut dia, apa yang diajarkan tak sesuai dengan apa yang diterapkannya, sehingga hidup dan keluarganya sendiri malah berantakan. 'Bila memang ia menerapkan apa yang diajarkannya, seharusnya itu tak terjadi.', demikian argumentasinya.

Di lain kesempatan, di Denpasar, saya juga sempat berbincang-bincang dengan seorang Pembimbing dan Pelatih Yoga-Sadhana. Usianya belum setengah baya dan masih hidup sebagai perumah tangga. Ia menyampaikan keluhannya pada saya dengan mengatakan bahwa, 'Orang-orang yang pernah saya latih mengalami kegagalan, hanya karena hambatan pandangan kasat.'; demikian ungkapnya.

Ketika saya mohonkan lagi penjelasannya tentang apa yang dimaksudkan, ia menjelaskan: 'Berguru masalah spiritual, bukanlah berguru pada jasmani Sang Guru, dengan segala persoalan hidup dan atribut keduniaan yang disandangnya. Bila itu yang kita pandang, sama saja dengan berguru di bangku sekolah. Kita bisa terkecoh, kecewa dan kepercayaan kitapun akan mudah terkikis.'

Kiranya kedua fenomena tersebut dapat memberi gambaran seimbang; dari perspektif seorang Siswa - yang berguru - dan seorang Guru. Pangkal permasalahannya adalah belenggu 'pandangan kasat'. Inilah yang seringkali mengacaukan, untuk kemudian menggoyahkan kepercayaan kita. Sesuatu yang kasat, adalah sesuatu yang nyata (sekala), bagi awam. Sementara masalah spiritual, seperti yang kita maklumi bersama, adalah masalah niskala - menurut terminologi yang digunakan di Bali.

Adalah suatu kesia-siaan dan juga kebodohan bila mencoba untuk mengukur besaran niskala dalam ukuran atau kriteria sekala. Kita akan melihat sisi astral-nya yang halus, bila sebuah fenomena diamati dengan kacamata niskala. Spiritualitas, bertautan dengan fenomena metafisis yang niskala. Ini mesti jelas dulu bagi yang hendak melangkahkan kakinya ke dunia spiritual.

MENGAMATI FENOMENA POKOK DALAM MASYARAKAT SPIRITUAL

Dunia spiritual sendiri, sesungguhnya juga dapat dibedakan lagi menjadi: spiritual-filosofis, spiritual-religius dan spiritual-mistis.

~ Spritual-filosofis adalah paradigma dunia spiritual yang paling sesuai bagi kaum intelektual, para pemikir dan akhli pikir modern sekarang ini. Mereka mempunyai tingkat kefasihan dalam menggunakan pikiran dan daya pikir mereka. Satu keuntungan atau kelebihan, dibandingkan dengan yang lain, adalah mereka tak mau dibatasi oleh sekat-sekat agama atau doktrin-doktrin ajaran tertentu, secara kaku. Ini membuka kesempatan untuk mengembangkan kehendak bebas untuk bereksplorasi di dunia spiritualitas seluas-luasnya.

~ Spiritual-religius adalah paradigma dunia spiritual yang umumnya dijalankan oleh kaum agamais. Ia berdasarkan pada suatu kaidah-kaidah keagamaan tertentu berikut praktek-praktek latihan dan ritualnya. Yang bukan umatnya, umumnya akan
mengalami kesulitan dalam mengikutinya. Akan amat terasa bahwa, banyak istilah, pandangan-pandangan maupun doktrin-doktrin menjadi penghambat atau halangan, bagi mereka yang bukan penganut agama tersebut.

Walau tak dapat disangkal bahwa, seorang penekun suatu jalan spiritual-filosofis, juga mengawalinya disini, akan tetapi oleh karena bakat inteleknya menonjol, maka ia akan berkembang kearah filosfis. Sedangkan bila keterkaitannya terhadap hal-hal mistis kuat, intelektualitasnya terbatas, serta cenderung untuk mudah percaya, maka ia akan lebih condong dan tertarik pada spiritual-mistis.

~ Spiritual mistis; seperti telah dikemukakan sebelumnya, jalan spiritual tipe ini lebih digandrungi oleh mereka yang mempunyai ketertarikan yang kuat terhadap hal-hal yang berbau atau bernuansa mistis. Sementara tak begitu berbakat dan peduli untuk menelusuri apa sesungguhnya yang ada dibalik fenomena-fenomena mistis tersebut.

Ajaran agama, seringkali juga termuati budaya mistis. Bahkan ada praktek-praktek keagamaan yang tidak diketahui dengan pasti, oleh umatnya, mengapa perlu dilakukan. Alhasil, mereka hanya melakukannya sesuai tradisi saja. Nah...disinilah ketakhyulan menemukan lahan subur untuk berkembang semarak. Sayangnya mereka seringkali dijadikan bulan-bulanan dan digarap sebagai suatu lahan bisnis, oleh pejalan spiritual yang lebih tinggi tingkatannya dan rada 'nakal'.

Secara sosiologis; spiritual mistis lebih menarik, dan oleh karenanya digandrungi orang. Lahan empuk garapannya adalah mereka yang pandangan kasat (sekala)-nya masih tebal, disamping pengetahuan religius serta intelektualitasnya rendah. Umumnya mereka akan diarahkan pada yang bersifat kanuragan, bukan filosofis-religius. Bahayanya adalah, bila mereka mengembangkannya pada praktek magis, apakah itu magi putih atau hitam. Di Bali, yang ini dikenal dengan sebutan pangiwa dan panengen, atau aliran kiri dan aliran kanan.

INTELEKTUALITAS DAN SPIRITUALITAS

Seperti juga telah disebutkan sebelumnya, bahwa kecondongan pada hal-hal yang bersifat mistis, sesungguhnya bermula dari dua pokok keberadaan atau kwalitas manusia secara batiniah yakni: pandangan kasat dan rendahnya penalaran (intelektual) guna memahami ajaran.

Adalah suatu fakta, bahwasanya pandangan kasat juga mempengaruhi mereka yang mempunyai tingkat intelektualitas yang baik. Yang begini sesungguhnya lebih condong pada materialisme, dibanding spiritualisme. Masalahnya tertumpu pada yang amat mendasar, yakni Pandangan. Sebetulnya, intelektualitas merupakan suatu kekuatan, senjata, yang bisa diarahkan pada kebajikan atau sebaliknya. Intelektualitas yang tidak diarahkan bagi kebajikan, dapat berakibat amat mengerikan; baik bagi sang intelektual, maupun bagi umat manusia secara luas.

Bagi mereka yang memiliki kemampuan intelek yang baik, diharapkan dapat mengembangkan 'kemampuan untuk memilih dan memilah-milah antara yang nyata dan yang maya' (viveka). Bagi penekun spiritual-filosofis maupun spiritual-religius; viveka amat penting. Kedua tipe penekunan inilah yang melahirkan para filsof dan theolog dalam berbagai agama ataupun aliran. Salah-satu contoh individu, yang mengawali jalan spiritualnya dengan memantapkan viveka terlebih dahulu adalah: Jiddu Krishnamurti - seorang filsuf universalis yang termasyur abad lalu.

Dalam sebuah tulisan, yang dipersiapkannya pada masa persiapan menjelang di-inisiasi oleh Sang Guru, J. Krishnamurti - yang ketika itu masih dikenal dengan nama Alcyone - memberi penekanan terhadap penguasaan viveka. Beliau mengatakan: "Syarat yang pertama dari syarat-syarat itu adalah viveka, yang dapat memimpin orang menempuh jalan itu....akan tetapi lebih dari itu, syarat itu harus dipraktekkan tidak hanya saat memasuki jalan itu, namun pada setiap langkah sampai pada akhirnya." ['Dikaki Guru Sejati' - Desember 1910]

Kaum intelektual yang terlengkapi dengan viveka yang baik, bisa amat berharga bagi umat manusia dan dunia. Ini juga ditekankan oleh Swami Sivananda, ketika menjawab pertanyaannya sendiri tentang 'membangun Dunia Baru', dengan mengatakan: "Dengan membangkitkan suatu Daya-Pikir yang mengakibatkan seseorang dapat menikmati Kedamaian dalam batinnya, akan tertanam dalam hatinya kemurahan hati dewata berupa: belas-kasihan, berupa kesediaan untuk melayani sesama, cinta-kasih Tuhan, dan hasrat yang kuat untuk merealisasikan-Nya."

SPIRITUALITAS DI INDONESIA BARU

Sejak guncang dan jatuhnya ORDE BARU, orde pemerintahan Indonesia yang terlampau mengagung-agungkan kesejahteraan materialistis, yang menerapkan pendekatan militeristis didalam menjaga ketentraman, spiritualitas religius dan spiritualis filosofis mulai lagi dengan babak barunya di bumi Nusantara.

Terpilihnya Kyai Haji Abdurrahman Wahid, sebagai Presiden dan Megawati sebagai wakilnya, lebih memastikan lagi kebangkitan spiritualitas Timur di Indonesia. 'Indonesia Baru' jauh-jauh hari sebelumnya telah dikumandangkan oleh Gus Dur.
Dalam sebuah tulisannya yang berjudul 'Rekonsiliasi Nasional menuju Indonesia Baru', yang disampaikan pada Forum Dialog Nasional yang diadakan oleh Masyarakat Indonesia Baru pada awal Desember 1998 (sebelum terpilih sebagai presiden), beliau mengutarakan antara lain: "...Mereka menerima Pancasila secara nasional sebagai suatu kenyataan dan tak lagi mempertanyakan mengenai agama negara. Artinya, agama memiliki tempat sebagai kekuatan moral. Hal ini berlaku sama bagi setiap agama, khususnya bagi mereka yang mencari makna hidup dalam agamanya masing-masing, yang menjadi landasan bangsa. Dari sinilah gerakan demokrasi tumbuh, suatu gerakan yang sesungguhnya berjalan seirama dengan ajaran agama-agama di negara kita, baik yang diakui negara maupun yang belum, yang perlu segera diperhatikan agar memperoleh pengakuan secara demokrasi, seperti Kong Hu Cu, Islam Bahai dsb." [Hikmahbudhi - edisi April-Juli, I-1999]

Beliau mengungkapkan gagasan tersebut sebelum terpilih sebagai Presiden RI., dan kini gagasan itu sedikit demi sedikit tampak mulai terealisasikan. Apa yang terlihat dari padanya adalah, spiritualitas religius dan spiritualitas filosofis semakin mendapat tempat dan daya dorongnya di Era Indonesia Baru; suatu kontribusi aktif bangsa ini dalam mewujudkan Tatanan Dunia Baru.

SPIRITUAL FILOSOFIS DAN SPIRITUAL RELIGIUS BAGI PERDAMAIAN DUNIA

Sesungguhnya dunia intelektual global mengakui kontribusi besar dari spiritual filosofis dan spiritual religius bagi Perdamaian Dunia. Hadiah Noble adalah penganugrahan penghargaan yang tinggi bagi para pejuang Perdamaian Dunia lewat jalan spiritualitas ini. Rabindranath Tagore, putra dari salah seorang penggiat dalam Arya Samaj (masyarakat arya) cetusan Swami Dayananda Saraswati, adalah salah seorang pemenang Noble Kesusastraan pertama dari dunia spiritualitas Timur. Lewat mahakarya susastranya 'Gitanjali', kita saksikan bahwa beliau secara tradisi mewarisi ajaran-ajaran spiritual religius Hindu maupun Buddha dan memahami filosofinya. Ini dapat kita jadikan sebagai salah-satu contoh.

Dalai Lama XIV dari Buddha, Bunda Teresa dari Nasrani, Mgr. Carlos F.X. Belo, adalah beberapa nama pejuang Perdamaian dan Kemanusiaan, yang berlatar-belakang spiritual religius, yang diakui dunia internasional lewat Hadiah Noble. Mahatma Gandhi, menyentak dunia dengan perjuangan tanpa kekerasannya (ahimsa). Beliau bahkan dinobatkan sebagai 'Tokoh Abad XX' (Asian of the century) oleh majalah Asianweek, dan sebagai 'Tokoh Millennium II' oleh majalah Time, tak lama berselang. Asianweek mengunggulkannya untuk bidang Moral dan Kepemimpinan Spiritual; sementara itu majalah Time terbitan AS, mengunggulkannya untuk bidang pejuang Hak-hak Sipil.[WHD. No. 396; Pebruari 2000]

Spiritualitas, religiusitas maupun pandangan-pandangan filosofis, masih tampak berkontribusi aktif bagi Perdamaian Dunia. Kontribusinya terhadap penggalangan Tatanan Dunia Baru, yang lebih baik, lebih damai dan lebih sejahtera, masih terus dibutuhkan dan akan semakin dirasakan pada millennium mendatang.

Rabu, 13 Januari 2010

tentang kamu...

kamu adalah hidupku....